Panen Jagung Sadesahe Sumber Sari, Jadi Bukti Ketahanan Pangan Berkelanjutan, Lahan Langsung Ditanami Cabai
ENDY/BE PANEN: Panen jagung program Sadesahe di Desa Sumber Sari, Kecamatan Air Dikit, menjadi bukti optimalisasi lahan desa dalam memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan.--
Harianbengkuluekspress.id — Program ketahanan pangan Satu Desa Satu Hektare (Sadesahe) di Desa Sumber Sari, Kecamatan Air Dikit, Kabupaten Mukomuko, tidak hanya berhenti pada panen jagung. Pemerintah desa memastikan lahan tetap produktif dengan menerapkan pola tanam berkelanjutan, menjadikan program ini sebagai contoh pengelolaan pangan desa yang efisien dan bernilai ekonomi.
Panen jagung yang dilaksanakan pada Senin, 19 Januari 2026, menjadi penanda keberhasilan pengelolaan lahan kolektif seluas satu hektare yang berlokasi di Desa Talang Medan, Kecamatan Selagan Raya. Lahan tersebut dikelola oleh Tim Pelaksana Kegiatan Khusus (TPKK) Desa Sumber Sari dengan melibatkan perangkat desa dan masyarakat.
Ketua TPKK Desa Sumber Sari, Nazar Purwansyah, menyebutkan bahwa hasil panen jagung kali ini dinilai memuaskan dan menjadi bukti bahwa perencanaan pertanian yang terukur mampu memberikan hasil nyata.
“Dari awal kami menargetkan lahan ini tidak boleh berhenti produksi. Panen jagung ini bukan akhir, tetapi bagian dari siklus ketahanan pangan yang berkelanjutan,” ujar Nazar.
BACA JUGA:Produksi Lele Asap di Desa Taba Mutung Tembus 150 Kg Perminggu
BACA JUGA:Kembali Pejabat Seluma Bersama Oknum PPPK Digerebek Warga, Sekda Naik Pitam
Ia menjelaskan, hasil panen jagung diperkirakan mencapai 5 hingga 6 ton, setelah melalui proses budidaya yang mengikuti anjuran teknis pertanian, mulai dari pengolahan lahan hingga pengendalian hama.
“Kami menerapkan perawatan sesuai rekomendasi penyuluh. Alhamdulillah, pertumbuhan jagung merata dan hasilnya sesuai harapan,” katanya.
Lebih lanjut, Nazar mengungkapkan bahwa strategi tumpang sari menjadi kunci optimalisasi lahan. Saat jagung memasuki usia sekitar 70 hari, lahan yang sama langsung ditanami cabai, sehingga tidak ada waktu lahan menganggur.
“Sekarang tanaman cabai sudah berusia sekitar 40 hari dan mulai berbunga. Ketika jagung selesai dipanen, cabai sudah siap masuk fase produksi. Ini cara kami menjaga produktivitas lahan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sumber Sari, Sabarudin Marpaung, SH, menyampaikan bahwa program Sadesahe bukan hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan desa, tetapi juga mendorong peningkatan pendapatan masyarakat melalui pengelolaan komoditas bernilai ekonomi.
“Kami ingin program ketahanan pangan benar-benar memberi dampak ekonomi. Dengan pola tanam berkelanjutan, desa bisa memperoleh hasil lebih optimal dan berkesinambungan,” ujarnya.
Dalam kegiatan panen, pemerintah desa turut melibatkan Camat Air Dikit, penyuluh pertanian lapangan, pendamping desa, BPD, serta unsur keamanan. Keterlibatan lintas sektor ini diharapkan dapat menjadi sarana evaluasi sekaligus pembelajaran bagi desa lain.
“Kami berharap apa yang dilakukan Desa Sumber Sari bisa menjadi referensi bagi desa-desa lain dalam mengelola program ketahanan pangan secara serius dan terukur,” tambah Sabarudin.