Harianbengkuluekspress.id- Ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bengkulu Utara belum sepenuhnya reda. Hingga akhir Juni 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bengkulu Utara mencatat sedikitnya 55 kasus DBD. Wilayah SP3 Ketahun dan Kecamatan Arga Makmur menjadi daerah dengan kasus yang cukup dominan. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pasalnya, penyebaran DBD tidak hanya dipengaruhi faktor lingkungan, tetapi juga masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bengkulu Utara, Bintoro Wahyudi, mengatakan puluhan kasus tersebut tercatat sepanjang Januari hingga Juni 2026.
“Berdasarkan data yang kita himpun sejak Januari sampai akhir Juni 2026, tercatat sebanyak 55 kasus DBD di Kabupaten Bengkulu Utara,” ujar Bintoro, Selasa 4 Agustus 2026
BACA JUGA: Uji Kompetensi untuk Pengembangan Karir ASN Mukomuko
BACA JUGA: 36 Pelajar Digembleng Jadi Paskibraka BU
Meski jumlah kasus tersebut masih dinilai dapat dikendalikan, masyarakat diminta tidak lengah. DBD dapat menyerang siapa saja dan berpotensi menimbulkan komplikasi apabila tidak segera mendapatkan penanganan medis.
“Walaupun kasusnya masih bisa kita kendalikan, masyarakat tetap harus meningkatkan kewaspadaan. DBD bisa menyerang siapa saja dan apabila tidak segera ditangani dapat berisiko menimbulkan komplikasi,” tegasnya.
Bintoro menyebut, dari 55 kasus yang tercatat, penyebaran DBD masih didominasi wilayah SP3 Ketahun dan Kecamatan Arga Makmur. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama, terutama dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal.
Hasil pemantauan di lapangan, kata dia, masih ditemukan rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam menjalankan PSN. Sejumlah tempat penampungan air dan lingkungan yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti masih ditemukan.
“Dari hasil pengawasan di lapangan, kesadaran masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk masih tergolong rendah. Masih banyak ditemukan tempat penampungan air maupun lingkungan yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” jelas Bintoro.
Untuk itu, Dinkes Bengkulu Utara terus mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya kasus baru untuk bergerak. PSN harus dilakukan secara rutin dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
“Kita terus mengimbau masyarakat untuk rutin melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk. Dengan keterlibatan aktif seluruh masyarakat, kita berharap angka kasus DBD dapat terus ditekan dan tidak meningkat pada bulan-bulan berikutnya,” pungkasnya.(afrizal)