Harian Bengkulu Ekspress

DLH Kepahiang Kewalahan Tangani Sampah

Armada angkutan sampah milik Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kepahiang. -Doni/BE-

Harianbengkuluekspress.id – Masalah persampahan di Kabupaten Kepahiang kian mengkhawatirkan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kepahiang secara blak-blakan mengaku tengah kewalahan menangani distribusi sampah akibat kondisi armada pengangkut yang mayoritas sudah "sakit-sakitan" alias rusak berat. Kondisi ini jika dibiarkan berlarut-larut, diprediksi bakal memicu tumpukan sampah di sejumlah titik pemukiman warga karena keterlambatan pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kepala DLH Kepahiang, Dra Sumi Pitriani MSi melalui Kabid Kebersihan, Tris Wahyudi MSi mengungkapkan, bahwa keterbatasan sarana dan prasarana (sarpras) menjadi ganjalan utama pihaknya dalam memberikan pelayanan prima.

"Armada kita sudah banyak yang berusia tua, ada yang sudah lebih dari 10 tahun. Unit yang paling baru itu pengadaan tahun 2022. Karena faktor usia, kendaraan ini sering masuk bengkel, padahal pemeliharaan terus kita lakukan secara rutin," keluh Tris.

Saat ini, DLH mengoperasikan 9 unit armada yang terdiri dari 6 unit Dump Truck, 2 unit Mobil Carry, dan 1 unit motor roda tiga. Ironisnya, 1 unit Amroll Truck yang memiliki kapasitas angkut besar saat ini justru dalam kondisi rusak total dan tidak bisa digunakan.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan volume sampah yang terus melonjak seiring pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kepahiang. Tris menjelaskan, jika merujuk pada Master Plan Kebersihan Daerah, kekuatan armada saat ini tidak sampai separuh dari angka ideal.

"Kendalanya memang di sarpras. Volume sampah bertambah, tapi armada tetap. Idealnya kita butuh tambahan 3 unit baru segera. Namun kalau bicara kebutuhan total sesuai Master Plan, harusnya kita punya 20 unit," tegasnya.

BACA JUGA:BREAKING NEWS:Mantan Bupati Ditetapkan Tersangka Korupsi Pertambangan, Langsung Ditahan

BACA JUGA: Sah! DPR Umumkan 5 Nama Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, Berikut Nama-namanya

 

Demi menjaga agar Kepahiang tetap bersih, DLH terpaksa menerapkan strategi kerja ekstrem. Armada yang masih laik jalan dipaksa bekerja ekstra dengan meningkatkan frekuensi pengangkutan menjadi 2 hingga 3 kali sehari (ritase).

Namun, Tris mengakui, langkah ini ibarat buah simalakama. Di satu sisi sampah terangkut, di sisi lain mesin kendaraan terancam "jebol" karena dipaksa bekerja melampaui batas kemampuan.

"Kita tingkatkan frekuensi angkut, tapi risikonya mesin cepat rusak karena beban kerja terlalu tinggi. Kami sangat berharap ada perhatian terkait penambahan armada ini agar pelayanan tidak lumpuh dan penumpukan sampah di masyarakat bisa kita cegah," pungkasnya. (doni)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan