KPAI Pelajari Penangkapan Pelajar oleh Densus 88
logo Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)-Tangkaplayar/bengkuluekspress-
Harianbengkuluekspress.id- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tengah mempelajari kronologi penangkapan seorang anak di bawah umur yang kabarnya diamankan oleh tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Anak tersebut masih berstatus pelajar dan diduga terpapar paham radikal.
KPAI menyatakan pihaknya khawatir anak yang bersangkutan mendapatkan inspirasi atau pengaruh negatif dari media sosial dan permainan daring (game online). Komisi menekankan pentingnya pengawasan terhadap konten digital yang bisa berdampak pada perkembangan psikologis anak.
“Kami mempelajari semua aspek kasus ini, termasuk kemungkinan pengaruh media sosial dan game online terhadap anak,” ujar Ketua KPAI Ketua KPAI Daerah Tasikmalaya Ato Rinanto yang juga membawahi wilayah kerja Garut.
Pihaknya juga menegaskan siap memberikan pendampingan agar hak dan perlindungan anak tetap terjaga.
BACA JUGA:Pelajar di Garut Ditangkap Densus 88, PPA: Kami Berikan Pendampingan
BACA JUGA:Pelajar di Garut Ditangkap Densus 88, Begini Reaksi Kang Dedi Mulyadi
KPAI menekankan pentingnya pengawasan terhadap pengaruh media sosial dan game online yang dapat memengaruhi perilaku anak.
Ketua KPAI menjelaskan, generasi anak-anak saat ini sering mencari ide atau gagasan melalui media sosial. “Di media sosial itu apa saja bisa direkayasa dan mudah didapatkan sehingga ada kecenderungan perilaku. Anak biasanya mencari inspirasi dari media sosial,” ujarnya.
Ia menambahkan, anak yang kurang mendapat edukasi dari keluarga berisiko tinggi terpapar pengaruh negatif. “Edukasi yang kurang diberikan oleh keluarga akan berakibat buruk pada pergaulan sehingga anak mudah terpapar, karena ia mencari keinginan lewat dunia maya yang sifatnya bebas akses,” jelasnya.
Menurutnya, perilaku seperti ini perlu diwaspadai. “Saya khawatir ide dan gagasan ia dapat dari media sosial atau game. Faktor keluarga sangat dominan. Anak biasanya ketika pola asuhnya lemah dari keluarga, pengaruh media sosial dan lingkungan akan dominan,” tukasnya. (**)