Warga Cinto Mandi Minta Perbaikan Jembatan
RENALD/BE Kondisi Jemabatan Cinto Mandi yang dikeluhkan masyarakatan karena butuh perbaikan, Kamis 6 Maret 2025.--
Harianbengkuluekspress.id – Warga Desa Cinto Mandi, Kecamatan Pino Raya, mendesak pemerintah daerah segera memperbaiki jembatan utama di desa mereka yang mengalami kerusakan parah. Jembatan semi permanen yang menjadi satu-satunya akses penghubung desa itu kini dalam kondisi nyaris tak layak pakai, namun tetap digunakan warga karena tidak ada jalur alternatif.
Infrastruktur jembatan masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Bengkulu Selatan. Hingga Maret 2025, masih banyak jembatan penghubung desa yang rusak berat dan belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah, termasuk jembatan di Desa Cinto Mandi. Kondisi ini menyulitkan warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, terutama dalam distribusi hasil pertanian dan mobilitas ke luar desa.
Kepala Desa Cinto Mandi, Sekaman mengungkapkan bahwa pihaknya sudah berulang kali mengajukan permohonan perbaikan jembatan kepada pemerintah daerah. Namun hingga saat ini, belum ada tindakan nyata untuk membangun jembatan yang lebih kokoh.
"Sudah berkali-kali kami sampaikan kepada pemerintah daerah agar jembatan ini diperbaiki. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian. Sementara itu, kami warga terpaksa tetap menggunakan jembatan ini meskipun kondisinya sudah sangat memprihatinkan," ujar Sekaman, Kamis 5 Maret 2025.
BACA JUGA:Polres Pantau Harga Bapok dan Gas, Pastikan Distribusi Lancar
BACA JUGA:Jelang Idul Fitri, Tukar Uang Baru di Bank BCA yang Mudah dan Cepat, Begini Caranya
Menurutnya, jembatan ini mengalami kerusakan parah sejak beberapa tahun terakhir. Selama ini, warga bersama pemerintah desa hanya bisa melakukan perbaikan secara swadaya dengan cara bergotong royong mengganti papan kayu yang sudah lapuk. Namun, perbaikan ini hanya bersifat sementara karena jembatan kembali rusak dalam waktu singkat.
"Setiap kali diperbaiki, tidak lama kemudian rusak lagi. Apalagi jembatan ini selalu dilalui kendaraan berat pengangkut sawit. Bebannya terlalu besar, sehingga jembatan cepat rusak," tambahnya.
Sekaman menegaskan, kondisi ini sangat menyulitkan warga, terutama bagi para petani yang mengandalkan jembatan ini untuk mengangkut hasil panen. Sayangnya, pemerintah desa tidak bisa melarang kendaraan pengangkut sawit melintas.
"Karena jalur ini adalah satu-satunya akses bagi petani untuk membawa hasil kebun mereka ke pasar," ungkapnya.
Tak hanya mengadu ke pemerintah daerah, pihak desa juga telah menyampaikan keluhan ini kepada anggota DPRD Bengkulu Selatan, Try Syaputra Fikri. Menanggapi hal itu, Fikri berjanji akan memperjuangkan perbaikan akses bagi masyarakat di wilayah Pino Raya, terutama di desa-desa terpencil seperti Cinto Mandi dan Telaga Dalam. Ia mengakui bahwa kondisi infrastruktur di dua desa ini memang sudah sangat memprihatinkan dan membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah.
"Akses menuju dua desa ini sudah tidak layak lagi. Saat ini, hanya kendaraan khusus yang bisa melintas. Saya sudah menerima aspirasi warga dan akan memastikan masalah ini menjadi prioritas dalam pembahasan anggaran pembangunan daerah," tegasnya. (Renald)