Benteng Marlborough Dipasang Pagar, Kini Lebih Terjaga
Andes (72), pemandu wisata, saat ditemui di Benteng Malborugh, Bengkulu Senin, 25 Agustus 2025-Aurel/Bengkuluekspress-
Harianbengkuluekspress.id – Benteng Marlborough, peninggalan bersejarah dari masa kolonial Inggris, kini tampil lebih tertata setelah dipagari.
Kebijakan ini dinilai mampu menjaga kelestarian sekaligus kenyamanan pengunjung.
Benteng Marlborough menjadi salah satu ikon sejarah di Kota Bengkulu yang tak pernah sepi pengunjung.
Bangunan berarsitektur kolonial ini dibangun pada tahun 1714 oleh perusahaan dagang Inggris, East India Company (EIC), dan selesai pada 1719.
BACA JUGA:Rumah Pengasingan Bung Karno, Saksi Bisu Sang Proklamator di Bengkulu
BACA JUGA:Berkunjung ke Kampung Nelayan Malabero, Ikan Asin Kakap Jadi Favorit
Menurut penuturan Andes (72), seorang pemandu wisata freelance yang sudah 27 tahun mendampingi wisatawan di lokasi tersebut, benteng ini merupakan benteng kedua yang didirikan Inggris di Bengkulu.
“Sebelumnya Inggris membangun Benteng York pada tahun 1685. Namun benteng itu akhirnya ditinggalkan, bukan karena kalah perang, melainkan karena wabah malaria yang banyak memakan korban. Lalu Inggris membangun Benteng Marlborough yang lebih higienis,” ujar Andes kepada BE, saat diwawancara, Senin, 25 Agustus 2025.
Perubahan besar dirasakan dalam beberapa tahun terakhir sejak benteng kembali dipagari. Andes mengungkapkan, pagar sebenarnya sudah ada sebelumnya, namun sempat dibongkar pada 2009 tanpa alasan jelas.
Akibatnya, pengunjung kala itu bisa masuk seenaknya tanpa aturan jam.
“Dulu kalau tidak ada pagar, orang bisa masuk jam berapa saja. Sampah berserakan, tidak ada yang mengatur. Tapi setelah ada pagar lagi, sekarang benteng lebih bersih, lestari, dan terjaga,” ujarnya.
Benteng Marlborough kini resmi buka setiap hari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Di luar jam tersebut, kawasan benteng steril dari pengunjung.
Pemasangan pagar ini diinisiasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VII Bengkulu dan Lampung, sebagai bentuk komitmen menjaga warisan budaya.
Menariknya, menurut Andes, keberadaan pagar tidak berdampak signifikan terhadap jumlah wisatawan.