Harian Bengkulu Ekspress

Desa Sukarami Butuh Penanganan Abrasi

RENALD/BE Pemasangan beronjong yang dilakukan Pemkab Bengkulu Selatan di Desa Sukarami Kedurang Ilir untuk mencegah dampak abarasi Sungai Kedurang beberapa waktu lalu.--

Harianbengkuluekspress.id – Ancaman abrasi Sungai Kedurang masih menghantui Desa Sukarami, Kecamatan Kedurang Ilir. Setiap kali hujan lebat mengguyur, debit air sungai meningkat dan menggerus bantaran, jalan sentra pertanian, serta lahan warga. 

Kondisi ini bahkan mulai mengancam jembatan gantung yang selama ini menjadi akses utama masyarakat menuju perkebunan. Kerusakan tersebut tidak hanya berdampak pada infrastruktur, tetapi juga mengusik rasa aman petani. 

Jalur produksi yang tergerus membuat aktivitas pertanian warga terhambat, sementara abrasi terus bergerak mendekati badan jalan desa. 

Kepala Desa Sukarami, Ujang Ismaladi mengatakan abrasi Sungai Kedurang sudah menjadi persoalan serius bagi wilayahnya. Saat hujan deras, aliran sungai semakin kuat dan mengikis sisi sungai yang berbatasan langsung dengan kebun dan jalan pertanian.

“Kalau hujan lebat, debit air naik dan langsung menggerus jalan sentra pertanian, lahan warga, bahkan sudah mengancam jembatan gantung yang menjadi akses utama masyarakat ke kebun,” kata Ujang Ismaladi, Kamis, 29 Januaro 2026.

BACA JUGA:BUMDes Merah Putih Panen Ikan Nila

BACA JUGA:Pemdes Air Long Tuntaskan Pembangunan Rabat Beton

Ia menjelaskan, penanganan awal sebenarnya sudah dilakukan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII dengan pemasangan bronjong di sejumlah titik rawan. Kegiatan tersebut merupakan inisiatif Bupati Bengkulu Selatan, H Rifai Tajuddin yang dilaksanakan secara gotong royong bersama personel Kodim 0408 dan Polres Bengkulu Selatan, serta pihak terkait lainnya.

“Pemkab sudah memasang bronjong di beberapa titik bekerja sama dengan BWS VII. Itu sangat membantu menahan gerusan, tapi sifatnya masih sementara,” jelasnya.

Ujang juga menyampaikan, penanganan abrasi lanjutan sebenarnya telah dialokasikan anggaran sebesar Rp 3,4 miliar yang bersumber dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Anggaran itu direncanakan untuk pembangunan dinding penahan serta gorong-gorong sepanjang sekitar 250 meter.

“Dana dari BNPB itu untuk membangun dinding penahan dan gorong-gorong sepanjang 250 meter agar abrasi bisa ditangani lebih permanen,” ungkap Ujang.

Namun hingga awal tahun 2026, realisasi anggaran maupun pekerjaan fisik belum juga berjalan. Sementara itu, ancaman abrasi terus menghantui warga, terutama saat intensitas hujan meningkat.

Menurut Ujang, abrasi yang dibiarkan berlarut-larut tidak hanya merusak lahan pertanian, tetapi juga berpotensi memutus akses warga jika jalan desa dan jembatan gantung terdampak lebih parah.

“Kalau tidak segera ditangani, bukan hanya kebun warga yang rusak, tapi bisa sampai ke jalan desa dan jembatan gantung. Padahal itu akses utama masyarakat menuju perkebunan,” tegasnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan