Ratusan Warga Sekunyit Tolak Warem dan Miras
RENALD/BE Ratusan masyarakat Sekunyit, Desa Pagar Dewa, Kecamatan Bunga Mas, mendatangi Wisata Alam Sekunyit (WAS) Sabtu 7 Februari 2026 malam.--
Harianbengkuluekspress.id – Ratusan masyarakat Sekunyit, Desa Pagar Dewa, Kecamatan Kota Manna, mendatangi Wisata Alam Sekunyit (WAS) Sabtu 7 Februari 2026 malam. Kedatangan mereka beramai-ramai bukan untuk berwisata, melainkan menyampaikan protes atas adanya aktivitas warung remang-remang dan maraknya minuman keras.
Bahkan bukan hanya WAS yang digeruduk, tetapi salah satu tempat hiburan malam lainnya yang jaraknya kurang lebih 300 meter dari lokasi tersebut. Di lokasi itu didapati banyak wanita pemandu lagu atau yang kerap disebut PL.
Salah seorang warga yang ikut dalam aksi demo tersebut, Romli, mengaku ada lebih dari 200 warga bersama kepala desa, Satpol PP, Polres Bengkulu Selatan, serta Sekda Bengkulu Selatan Ir Susmanto yang terpantau hadir di lokasi aksi massa untuk memastikan tidak terjadi tindakan anarkis.
“Saya ikut, karena asli warga situ. Awal mulanya pengelola wisata tersebut tidak memenuhi janji yang sudah kita sepakati. Karena sebelumnya kita ada musyawarah desa, musyawarah dusun, mintanya itu jam 5 sore tutup, tetapi kenyataannya sampai sekarang sudah tidak mematuhi aturan lagi dengan adanya perjanjian tadi,” ujar Romli kepada BE saat ditemui, Minggu, 8 Februari 2026.
BACA JUGA:Desa Lubuk Sanai Rancang Perdes Pengelolaan Lapak Pasar
BACA JUGA: Ramai PBI BPJS dinonakifkan, BPJS Kesehatan Warning Rumah Sakit, Pasien Darurat Wajib Dilayani
Lebih jauh, Romli mengaku atas kegiatan tersebut masyarakat merasa resah. Ia menyebut WAS kini dijadikan tempat karaoke dan lesehan yang baru beroperasi lebih kurang empat hari.
“Awalnya Wisata Alam Sekunyit tidak diprotes warga dan justru didukung, karena sebagian besar di samping kita ada kegiatan, kita juga ada lapangan kerja,” ungkapnya.
Romli mengatakan karaoke dan lesehan yang diprotes warga tidak disediakan oleh pihak WAS. Namun ada pihak ketiga yang menyewa tempat yang awalnya menjadi wisata keluarga, lalu berubah menjadi tempat hiburan malam yang meresahkan warga.
“Dari pihak luar yang menyewa tempat itu. Yang jelas kita membasmi miras. Jadi Alhamdulillah kebetulan semalam itu ada salah satu gudang di wisata itu terdapat miras lebih kurang 6 dus, kalau jenisnya saya tidak tahu karena kurang paham,” terangnya.
Untuk unjuk rasa sendiri dimulai sejak pukul 19.30 WIB sampai pukul 00.00 WIB. Ia mengaku aksi unjuk rasa berjalan tertib dan tidak ada tindakan anarkis.
“Tidak ada anarki karena itu imbauan langsung dari kepala desa. Kepala desa hadir, Pak Camat hadir, Kapolsek hadir, Sekda pun hadir, Kepala Satpol PP juga hadir,” terangnya.
Romli menerangkan dari kesepakatan warga, karaoke dan lesehan yang telah beroperasi selama empat hari tersebut ditutup untuk selamanya. Ia juga menyebut alat musik, miras dan barang jualan, serta alat-alat yang ada di sana sudah diangkut oleh pihak Satpol PP.
“Harapan saya ke depan kepada pemerintah setempat, tolong basmi miras, mabuk-mabukan dan karaoke karena itu merusak generasi muda kita yang akan datang. Apalagi Kota Manna ini sudah sedikit banyak dikenal. Jadi kita sebagai warga Sekunyit terus terang malu,” ungkapnya.