Sampah BS Siap Diolah Jadi Energi
RENALD/BE CEK TPA: Kepala Bappeda Litbang Kabupaten Bengkulu Selatan, Fikri Aljauhari, S.STP., M.Si., mendampingi Bupati Bengkulu Selatan bersama perwakilan Swiss Green Projects dan Kantor Staf Kepresidenan (KSP) saat meninjau Tempat Pembuangan Akhir (TP--
Harianbengkuluekspress.id – Kabupaten Bengkulu Selatan kembali mencetak sejarah di tingkat nasional. Daerah ini dipastikan menjadi satu-satunya sekaligus daerah perintis (pilot project) di Indonesia yang akan bekerja sama dengan Swiss Green Project dalam pengelolaan sampah modern berbasis teknologi. Jika program tersebut berhasil, konsep serupa akan direplikasi ke berbagai daerah lain di Indonesia.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Kabupaten Bengkulu Selatan, Fikri Aljauhari, S.STP., M.Si., mengatakan Swiss Green Project merupakan Non Government Organization (NGO) atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang bergerak di bidang kesehatan, kebersihan, dan keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, Swiss Green Project juga menjadi sarana penyalur program Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai negara di Eropa bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mendukung pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan di Indonesia.
"Untuk di Indonesia ini Bengkulu Selatan menjadi the one and only atau daerah pionir atau perintis yang nantinya ketika berkembang akan diduplikasikan ke daerah-daerah lain," ujar Fikri kepada BE, Selasa 14 Juli 2026.
BACA JUGA:Transformasi Layanan BSI Dorong Peningkatan 24 Juta Nasabah
BACA JUGA:Mitsubishi Xpander Tetap Jadi Andalan Mobil Keluarga, Utamakan Kenyamanan di Setiap Perjalanan
Ia menjelaskan, program tersebut bukan hanya menghadirkan teknologi baru dalam pengelolaan sampah, tetapi juga membuka peluang transfer ilmu pengetahuan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pelatihan bagi pemerintah daerah.
"Nah kita berharap nanti dengan program ini akan ada transfer sains dan knowledge, serta pelatihan yang memberikan kebermanfaatan bagi kita," katanya.
Fikri menjelaskan, selama ini sistem pengelolaan sampah yang ideal menggunakan metode controlled landfill, yakni penimbunan sampah secara terstruktur di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan perataan, pemadatan, saluran drainase air lindi, serta penutupan tanah secara berkala untuk meminimalkan dampak terhadap lingkungan.
Namun, kondisi di TPA Kayu Arau saat ini masih menggunakan sistem open dumping, sehingga mempercepat berkurangnya usia pakai tempat pembuangan akhir tersebut.
"Sedangkan pada dasarnya TPA Kayu Arau masih melakukan pengelolaan sampah dengan open dumping. Sehingga pada saat ini umur pakai pada TPA menjadi tereduksi, sehingga yang tadinya umur pakai TPA kita 30 tahun, mungkin kurang lebih dalam kurun waktu 10 tahun akan penuh," jelasnya.
Melalui kerja sama dengan Swiss Green Project, lanjut Fikri, pola pengelolaan sampah akan berubah secara menyeluruh. Sampah tidak lagi hanya ditumpuk di TPA, melainkan diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi sehingga mampu mengurangi timbunan sampah secara signifikan.
"Melalui program ini akan ada pengelolaan sampah, sehingga gunungan sampah tidak ada lagi. Pengelolaan sampah nanti outputnya akan menghasilkan produk-produk yang bernilai, bisa dalam bentuk gas, elektrik city dan lain-lain," terangnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan menunjukkan keseriusan penuh untuk merealisasikan program tersebut. Bahkan komunikasi langsung antara Bupati Bengkulu Selatan H. Rifai Tajuddin dengan pihak Swiss telah dilakukan sebagai langkah awal mempercepat realisasi investasi teknologi pengolahan sampah tersebut.