Harian Bengkulu Ekspress

Harga Sawit Tertinggi di Mukomuko Rp 2.960/kg

foto internet--

Harianbengkuluekspress.id  – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang di beli sejumlah pabrik di Kabupaten Mukomuko bertahan  atau masih dengan harga yang sama dari beberapa hari sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan belum adanya pergerakan signifikan pada harga sawit di daerah tersebut, meskipun momen perayaan kemerdekaan diharapkan mampu mendorong aktivitas ekonomi, termasuk sektor perkebunan.

“Belum ada perubahan atau kenaikan dan harga tertinggi di angka Rp 2.960 per kilogram di tingkat pabrik,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman melalui Kepala Bidang Perkebunan, Ade Alyan Prasatya. 

Ia menyebutkan, per 10 Agustus 2026 hari ini (kemarin,red), di PT Sapta harga  Rp 2.950 per kilogram, PT USM Rp 2.950, PT KSM Rp2.890,PT SAP Rp 2.950, PT SSS Rp 2.900,PT MMIL Rp 2.930,PT KAS Rp 2.870, PT MPRA Rp 2.960, PT DDP Rp 2.930, PT GSS  Rp 2.930  dan PT BMK Rp 2.930 per kilogram.

”Mayoritas pabrik membeli TBS sawit petani belum ada perubahan,” bebernya. 

BACA JUGA:Buka Mini Soccer, Bupati Kaur Ajak ASN Jaga Sportivitas

BACA JUGA: 10 KDKMP di Benteng Dilengkapi CCTV

Menurutnya, tidak adanya perubahan harga ini menandakan pasar sawit di daerah ini masih berada dalam kondisi stabil, namun belum menunjukkan tren penguatan. Stabilitas tersebut di satu sisi memberikan kepastian bagi petani, tetapi di sisi lain belum mampu mendorong peningkatan pendapatan. Ia juga mengatakan, harga yang berlaku saat ini merupakan hasil pemantauan langsung di lapangan dan tetap mengacu pada kondisi transaksi di masing-masing pabrik.

”Kami melakukan pemantauan harga secara berkala untuk memastikan tidak terjadi permainan harga yang merugikan petani. Selain itu, koordinasi dengan pihak perusahaan juga terus dilakukan guna menjaga stabilitas harga di tingkat produsen,” katanya. 

Ia menambahkan, dengan kondisi harga yang belum bergerak, petani diharapkan tetap menjaga kualitas buah agar tetap memenuhi standar pabrik. Faktor kualitas dinilai masih menjadi penentu utama dalam menjaga daya tawar di tengah kondisi harga yang stagnan.

“Kami mengimbau agar petani menjaga kualitas buah, agar tetap memenuhi standar pabrik,” ungkapnya.(budi)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan