Menu Dapur Sehat Jadi Senjata Desa Sendang Mulyo Perangi Ini
Kepala Desa, narasumber, dan seluruh peserta pelatihan ini menjadi simbol komitmen bersama dalam mempercepat penurunan angka stunting melalui edukasi gizi dan pemberdayaan masyarakat-Istimewa/Bengkuluekspress.-
Harianbengkuluekspress.id — Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Mukomuko terus digencarkan hingga ke tingkat desa. Salah satunya dilakukan Pemerintah Desa Sendang Mulyo, Kecamatan Penarik, yang menggelar Pelatihan Menu Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) bertema “Optimalkan Atasi Stunting” pada Senin (1/12/2025) di balai desa setempat.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari unsur tenaga kesehatan dan pendamping gizi, yakni Khairul Saleh, SKM, MM, Vepty Novita Putri, Amd.Gz, dan Indra Juwita Arja, M.Pd. Puluhan ibu rumah tangga, kader posyandu, serta perwakilan keluarga berisiko stunting mengikuti pelatihan yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari.
Kepala Desa Sendang Mulyo, Noor Ali dalam sambutannya menegaskan, bahwa stunting bukan persoalan sepele dan harus ditangani sejak dari rumah, terutama melalui pola makan dan pola asuh yang tepat.
“Pelatihan ini kami dorong agar warga paham bahwa stunting bisa dicegah mulai dari dapur rumah sendiri. Kalau menu harian anak dan ibu hamil tertata dengan baik, insyaallah kualitas gizi meningkat dan stunting bisa ditekan,” ujar Noor Ali.
BACA JUGA: 102 Desa di Bengkulu Utara Tidak Terima DD Tahap II Non Earmark, Segini Jumlahnya
BACA JUGA: 2 ASN Diduga Selingkuh di Lebong Segera Dipanggil, Ini Sanksinya
Ia menekankan, program DASHAT di desa tersebut bukan sekadar memenuhi target kegiatan, tetapi diarahkan untuk mengubah kebiasaan keluarga dalam mengolah dan menyajikan makanan sehari-hari.
“Harapan kami, ilmu yang didapat tidak berhenti di ruangan ini. Terapkan di rumah, manfaatkan bahan pangan lokal yang melimpah di desa, dan saling mengingatkan antarwarga. Pencegahan stunting harus menjadi gerakan bersama,” tambahnya.
Dalam sesi materi, Khairul Saleh, SKM, MM, yang juga menjabat sebagai Camat Penarik, memaparkan secara rinci pentingnya pemenuhan gizi seimbang, khususnya pada periode krusial 1.000 hari pertama kehidupan.
Ia menjelaskan, tingginya kasus stunting kerap bukan disebabkan oleh kurangnya ketersediaan pangan, melainkan pola konsumsi yang belum tepat dan tidak seimbang.
“Kunci penanganan stunting bukan hanya soal bantuan makanan tambahan, tetapi perubahan perilaku. Orang tua perlu memahami kebutuhan gizi sesuai usia anak, cara mengolah makanan agar gizinya tidak hilang, serta memperhatikan kebersihan lingkungan,” terang Khairul.
Peserta juga mendapatkan bimbingan dari Vepty Novita Putri, Amd.Gz, yang memberikan contoh menu harian sederhana namun bergizi, dengan memanfaatkan bahan pangan lokal seperti sayur-mayur, ikan, telur, dan sumber protein lain yang mudah dijumpai di sekitar desa.
Sementara itu, Indra Juwita Arja, M.Pd, menyoroti pentingnya pola asuh, stimulasi, serta perhatian orang tua terhadap tumbuh kembang anak sebagai faktor pendukung selain kecukupan gizi.
Pelatihan berlangsung interaktif. Para ibu diajak berdiskusi mengenai tantangan yang dihadapi di rumah, mulai dari kebiasaan anak yang pilih-pilih makanan, kesibukan orang tua, hingga keterbatasan pengetahuan tentang gizi. Di akhir sesi, peserta mengikuti simulasi penyusunan menu mingguan dan praktik mengolah makanan sehat berbasis dapur keluarga.