MPLS Harus Bersih dari Perpeloncoan
Lisarmawan--
Harianbengkuluekspress.id - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) seharusnya menjadi gerbang awal yang menyenangkan bagi siswa baru untuk mengenal lingkungan belajar mereka. Namun, bayang-bayang perpeloncoan kerap mencoreng semangat positif ini. Menyikapi hal ini, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kaur, Lisarmawan SIP, mengimbau agar seluruh pihak sekolah memastikan MPLS berlangsung tanpa praktik-praktik negatif tersebut.
“Mulai besok Senin, 14 Juli 2025 para siswa SD dan SMP mulai masuk sekolah. Di sini kita ingatkan kepada pihak sekolah agar aktivitas MPLS sesuai regulasi yang ada, jangan sampai ada perpeloncoan atau juga bullying," kata Lisarmawan, Minggu 13 Juli 2025.
Dikatakan Lisarmawan, dimana MPLS saat ini telah mengalami transformasi signifikan dibandingkan dengan Masa Orientasi Siswa (MOS) di masa lalu. Dulu, MOS seringkali diwarnai dengan permintaan atribut aneh dan tugas-tugas tidak masuk akal yang cenderung merendahkan martabat siswa baru. Perubahan ini membawa angin segar bagi dunia pendidikan yang lebih humanis. Berbeda dengan gambaran suram MOS, MPLS yang berlaku saat ini semestinya difokuskan pada pembentukan karakter dan pembinaan akhlak para siswa baru.
“Kegiatan dalam MPLS ini harus mampu menumbuhkan rasa cinta sekolah, membangun etika, dan mempersiapkan mental siswa untuk menghadapi tantangan pendidikan ke depan, bukan justru menakut-nakuti atau menekan mereka,” terangnya.
BACA JUGA:Operasi Patuh Nala 2025 Digelar 14–27 Juli, Satlantas Polres BS Fokuskan Penindakan dan Edukasi
BACA JUGA:Muara Jenggalu Bengkulu Makan Korban, 2 Pelajar SD Meninggal Dunia
Lanjutnya, pengawasan ketat menjadi kunci utama. Untuk itu mengingatkan para kepala sekolah dan guru untuk secara aktif memantau setiap sesi dan kegiatan MPLS. Peran pendidik tidak hanya sebatas fasilitator, tetapi juga sebagai pelindung yang memastikan tidak ada celah bagi praktik perpeloncoan untuk muncul dan berkembang.
"Kepada para guru kita minta selalu mengawasi saat pelaksanaan MPLS ini. Juga kita tidak akan ragu untuk mengambil tindakan tegas terhadap sekolah-sekolah yang terbukti membiarkan tindakan kekerasan selama MPLS,” tegasnya.
Ditambahkannya, kekerasan dalam bentuk apapun bukanlah bagian dari budaya pendidikan. Ia berpendapat bahwa praktik semacam itu justru akan merugikan semua pihak. Juga ia menyampaikan pesan penting kepada para peserta MPLS itu sendiri. Ia mengimbau agar siswa baru tidak mematuhi atau menuruti keinginan seniornya jika permintaan tersebut berbau kekerasan, pemalakan, atau hal-hal lain yang tidak mendidik. Keberanian untuk menolak adalah langkah awal menuju lingkungan sekolah yang sehat.
"Kegiatan MPLS ini adalah membangun siswa agar lebih mengenal sekolah, teman-teman baru. Tidak ada perpeloncoan. Karena MPLS sebagai wadah positif untuk adaptasi dan sosialisasi, bukan ajang untuk unjuk kekuatan atau penindasan,” tegasnya. (Irul)