Desa Agung Jaya Ubah Sampah Jadi Sumber Berkah, TPS3R Siap Didirikan
Desa Agung Jaya Ubah Sampah Jadi Sumber Berkah, TPS3R Siap Didirikan-Endi/Bengkuluekspress-
Harianbengkuluekspress.id — Semangat warga Desa Agung Jaya, Kecamatan Air Manjunto, Kabupaten Mukomuko, untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan kini semakin kuat.
Dalam waktu dekat, pemerintah desa setempat akan membangun Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), sebuah langkah nyata untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah, dari sekadar dibuang menjadi sumber manfaat yang bernilai.
Fasilitas TPS3R ini akan berdiri di atas lahan seluas 30 x 30 meter di kawasan pasar desa. Lokasi tersebut dipilih karena menjadi titik utama aktivitas warga dan pedagang, sehingga memudahkan proses pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan sampah.
Kepala Desa Agung Jaya, Hartono, mengatakan bahwa pembangunan TPS3R ini bukan hanya proyek fisik, melainkan gerakan sosial untuk membentuk kesadaran baru di tengah masyarakat.
BACA JUGA:Dibuka Lowongan Kerja PT Bank Mandiri, Untuk Staf Banking, Syarat dan Keuntungan
BACA JUGA:Magang Fresh Graduate PTPN 1 Regional 7, Dapat Uang Saku dan BPJS Ketenagakerjaan, Ini Syaratnya
“Kami pengin masyarakat paham kalau sampah itu bukan sekadar masalah, tapi juga bisa jadi berkah. Kalau diolah dengan benar, bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ujar Hartono.
Menurutnya, TPS3R nantinya akan menjadi pusat kegiatan pengelolaan sampah terpadu. Sampah organik akan diolah menjadi pupuk kompos untuk kebutuhan pertanian warga, sedangkan sampah anorganik seperti plastik dan botol akan didaur ulang atau dijual kembali.
“Hasil olahan sampah bisa bantu petani, bisa juga nambah penghasilan warga. Jadi manfaatnya ganda, lingkungan bersih, ekonomi juga terbantu,” tambah Hartono..
Hartono menegaskan bahwa pengelolaan TPS3R akan dilakukan dengan pendekatan partisipatif. Pemerintah desa akan mengajak warga untuk terlibat langsung, bukan hanya menyerahkan semuanya ke aparat desa.
“Kami ingin masyarakat ikut terlibat dari awal, mulai dari pengumpulan, pemilahan, sampai pengelolaan hasilnya. Kalau mereka ikut, rasa memiliki juga tumbuh. Jadi bukan cuma program, tapi gerakan bersama,” jelasnya.
Selain memberdayakan warga, pemerintah desa juga berencana menggandeng kelompok pemuda dan ibu-ibu PKK untuk mengelola hasil daur ulang.
Hartono berharap, dari kegiatan ini nantinya bisa muncul usaha kecil berbasis lingkungan, seperti produksi pupuk kompos, kerajinan dari bahan bekas, hingga pengelolaan bank sampah.
“Bisa saja nanti muncul ide usaha baru. Misalnya bikin pot bunga dari botol plastik, atau jual hasil daur ulang. Kami pengin TPS3R ini jadi tempat yang hidup, bukan bangunan yang mati,” katanya sambil tersenyum.