"PENTING" (Puzzle Anti Bullying), Senjata Edukatif Guru SD Melawan Ancaman Perundungan
FOTO BERSAMA: Dosen Poltekkes dan guru SDN 38 Kota Bengkulu foto bersama usai kegiatan.--
Harianbengkuluekspress.id – Dosen Poltekkes Kemenkes Bengkulu meluncurkan sebuah inovasi intervensi sosial bernama "PENTING" (Puzzle Anti Bullying) sebagai senjata baru bagi para guru sekolah dasar. Program Pengabdian Masyarakat (PkM) yang digelar di SDN 38 Kota Bengkulu pada Rabu, 11 September 2025, ini berfokus memberdayakan guru di Kecamatan Ratu Agung agar mampu mendeteksi dini dan mencegah perundungan (bullying) di lingkungan sekolah secara efektif.
Alat edukatif berupa permainan puzzle ini dirancang untuk menanamkan empati, logika, dan keterampilan resolusi konflik pada anak, mengubah peran guru dari sekadar pengajar menjadi arsitek lingkungan sekolah yang aman.
Inovasi PENTING menjadi sorotan utama dalam kegiatan ini. Tim Dosen tidak hanya memberikan teori pencegahan, tetapi juga menawarkan alat intervensi yang praktis. Secara psikologis, permainan puzzle ini dipilih karena menuntut anak untuk mengasah logika, melatih kesabaran, dan membangun hubungan baik melalui kerja sama.
"Melalui permainan yang menyenangkan dan menantang ini, guru dibekali cara non-konfrontatif untuk menanamkan nilai-nilai persahabatan, empati, dan kemampuan resolusi konflik senjata utama untuk membendung bullying sebelum ia sempat tumbuh," demikian penjelasan dari tim Poltekkes Kemenkes Bengkulu.
BACA JUGA:Relokasi Pedagang KZ Abidin Kota Bengkulu Kembali Ricuh, Satu Satpol PP Terluka
BACA JUGA:Bentuk Timsus Tuntaskan Konflik PT ABS, Stafsus DPD RI hingga Wakapolda Turun ke Bengkulu Selatan
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Pelaksana PkM, Ns. Hendri Heriyanto, M.Kep, yang menegaskan urgensi pelatihan pencegahan bullying.
"Sekolah adalah benteng pertama anak-anak kita. Namun, benteng ini seringkali terancam oleh 'musuh senyap' bernama bullying," tegas Ns. Hendri dalam sambutannya. Beliau menekankan bahwa guru adalah mata dan telinga yang paling dekat dengan anak. "Oleh karena itu, kemampuan guru untuk mendeteksi dini dan memahami akar masalah bullying harus dipertajam."
Suasana antusiasme tinggi mewarnai 'laboratorium' edukasi di SDN 38 sejak pukul 09.00 WIB. Program ini bertekad mengubah peran guru dari sekadar pengajar menjadi arsitek lingkungan sekolah yang aman dan suportif.
Sesi inti pada hari pertama diawali dengan pemaparan materi fundamental: "Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah Dasar." Ns. Hendri Heriyanto menjelaskan bahwa pemahaman fase perkembangan anak (usia 6-12 tahun) sangat krusial, sebab usia tersebut merupakan 'usia emas' di mana anak rentan terhadap tantangan psikologis seperti kecemasan dan depresi yang sering menjadi pemicu atau dampak perundungan.
Materi ini disajikan sebagai peta jalan bagi guru untuk mengidentifikasi cepat: apakah perubahan perilaku seorang siswa adalah bagian dari proses tumbuh kembang biasa, ataukah ini sinyal bahaya perundungan.
Keberhasilan program ini didukung oleh kolaborasi tim dosen Poltekkes Kemenkes Bengkulu yang membawa beragam keahlian. Tim inti yang turut hadir mendampingi Ns. Hendri Heriyanto, M.Kep, adalah Ns. Nehru Nugroho, M.Kep, S. Pardosi, SKp.MSi(P.si), dan Rini Patroni, SST., M.Kes.
Di akhir sesi, para guru menyatakan antusiasme dan apresiasi atas strategi aplikatif yang dapat langsung diterapkan di kelas. Kehadiran tim Dosen Poltekkes Kemenkes Bengkulu menegaskan bahwa pencegahan bullying adalah tanggung jawab kolektif yang harus ditangani dengan ilmu dan inovasi.
Misi edukasi ini belum usai. Pelatihan intensif yang sama direncanakan akan kembali digelar pada 16 September 2025 mendatang, dengan sasaran guru-guru dan siswa-siswi di SDN 19 Kecamatan Ratu Agung, sebagai upaya berkelanjutan untuk mencetak generasi emas Bengkulu yang jauh dari bayang-bayang perundungan. (**)