Lebong Kasus TBC Tertinggi se-Provinsi Bengkulu, Segini Penderitanya
Kabid P2P Dinkes Lebong, Evan Marta SKM--
Harianbengkuluekspress.id – Meskipun temuan angka kasus masyarakat yang menderita penyakit Tuberkulosis (TBC) di tahun 2025 sebanyak 304 kasus. Namun jumlah tersebut menurun jika dibanding tahun 2024 yang lalu sebanyak 326 kasus, membuat Kabupaten Lebong menjadi daerah terbanyak kasus TB se-Provinsi Bengkulu dari target yang telah ditentukan sebanyak 357 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Lebong, Rachman SKM MKM MSi melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Evan Marta SKM mengatakan, bahwa memang untuk penemuan kasus TBC di Kabupaten Lebong, jumlahnya lebih sedikit dari tahun 2024 yang lalu serta tidak mencapai target yang telah ditetapkan.
“Temuan ada sebanyak 302 kasus dari target 357 kasus untuk tahun 2025,” sampainya, Minggu 04 Januari 2026.
Lanjut Evan, dari total temuan kasus TBC di tahun 2025 tersebut didominasi atau penymbang TBC terbanyak daripara pekerja tambang emas. Hal ini dikeranekan profesi sebagai penambang emas, memiliki kerentanan yang tinggi dalam penyebaran kasus TBC.
“Lingkungan kerja yang tidak memenuhi standar kesehatan,” ucapnya.
BACA JUGA: Pemkab Kepahiang Ketergantungan Anggaran dari Pemerintah Pusat, Ini Penyebabnya
BACA JUGA:Pastikan Kesetaraan Kesempatan bagi Kaum Disabilitas
Ditambahkan Evan, untuk kawasan pertambangan emas sendiri bisa diketahui bersama bahwa ruangan kerja para penambang di dalam tanah cukup sempit, sehingga sirkulasi udara sangat minim serta paparan sinar mata hari tidak ada.
“Sehingga Bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab TBC sangat mudah berpindah kepada penambang yang lain melalui udara,” jelasnya.
Masih kata Evan, penularan TBC sendiri juga sering terjadi karena kesadaran masyarakat masih kurang untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Akibatnya banyak kasus TB yang terdeteksi, setelah penderitanya sudah cukup parah yang mana hal tersebut sangatlah mudah menularkan kepada orang lain.
“Ciri utama bisa diketahui penderita batuk 2-3 minggu dan karena hanya merasa batuk biasa sehingga tidak memeriksakannya ke faskes,” tuturnya.
Evan menegaskan, terkait kasus TBC sendiri pihaknya akan terus berupaya bisa mengurangi angka kasus baik itu melakukan sosialiasi, mengintensifkan penemuan kasus TBC baru, melakukan pemberian obat terus menerus selama 6 bulan tanpa henti serta upaya-upaya lainnya.
“Kita juga turun memberikan edukasi kepada masyarakat penambang emas,” ujarnya.