Cabdin Prihatin Perkelahian Pemuda Berujung Maut
RENALD/BE Kepala Cabdin Wilayah III Manna, Dedi Julihandri SPd--
Harianbengkuluekspress.id – Tragedi berdarah yang melibatkan para pemuda di Bengkulu Selatan pada Senin 13 Januari 2025 mengundang perhatian dari berbagai pihak, termasuk Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Wilayah III Manna. Peristiwa yang terjadi di sebuah warung manisan di Kelurahan Padang Sialang itu menewaskan seorang pemuda setelah perkelahian yang melibatkan senjata tajam (Sajam).
Kepala Cabdin Wilayah III Manna, Dedi Julihandri SPd menyampaikan keprihatinannya atas insiden tersebut. Terlebih karena pelaku masih berstatus siswa sekolah menengah di Kabupaten Bengkulu Selatan.
"Kami sangat menyayangkan peristiwa tragis ini, terutama karena melibatkan siswa dan menyebabkan satu korban jiwa," ujar Dedi kepada BE pada Senin 20 Januari 2025.
Lebih lanjut, Dedi menuturkan Cabdin Wilayah III bersama sekolah-sekolah di Bengkulu Selatan berencana mengadakan sosialisasi dan pembinaan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya menghindari perilaku negatif yang dapat berujung pada penyimpangan sosial.
"Pihak Cabdin bersama sekolah akan mengadakan pembinaan intensif kepada siswa. Kami juga mengimbau guru untuk lebih meningkatkan pengawasan, terutama kepada siswa yang masih dalam masa pertumbuhan karena mereka sangat rentan terhadap pengaruh buruk," sambungnya.
BACA JUGA:PMK Muncul di Kota Bengkulu, Ini Langkah Disnaskeswan Kota Bengkulu
BACA JUGA:Intimidasi Terhadap Jurnalis Harus Dihentikan, Begini Kata Ketua PWI BS
Dedi menekankan bahwa masa remaja adalah fase krusial yang membutuhkan perhatian ekstra, baik dari guru di sekolah maupun orang tua di rumah. Pengawasan yang kurang dapat membuka peluang bagi siswa untuk terjerumus ke dalam perilaku menyimpang.
"Kasus pelajar tersandung hukum jangan sampai terulang lagi, sehingga pencegahan harus dilakukan,'' tukasnya.
Pada kesempatan itu, Dedi mengingatkan pentingnya sinergi antara pihak sekolah dan orang tua dalam mengawasi dan mendidik siswa. Ia berharap kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk lebih memperhatikan perkembangan anak-anak mereka.
"Guru dan orang tua harus berperan lebih aktif dalam membimbing siswa. Perhatian ekstra sangat diperlukan agar mereka terhindar dari perilaku yang menyimpang," tutupnya.
Sehingga pengawasan lebih ketat di lingkungan sekolah dan luar sekolah perlu dilakukan. Hal ini termasuk pemantauan terhadap tempat-tempat yang sering dijadikan lokasi berkumpul siswa di luar jam belajar. Langkah ini diharapkan dapat mencegah potensi konflik yang melibatkan siswa.
"Tragedi ini menjadi peringatan keras akan pentingnya perhatian terhadap perilaku remaja, terutama di masa-masa kritis mereka dalam mencari jati diri," pungkasnya. (Renald)