Waspadai Penyakit Kencing Tikus, Ini Gejalanya
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bengkulu, Ruslian-Budhi Sulaksono/Bengkuluekspress-
Harianbengkuluekspress.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu mengimbau seluruh masyarakat untuk terus waspada terhadap penyakit kencing tikus atau leptospirasis mengingat sekarang ini di Bengkulu telah memasuki musim penghujan.
Hal tersebut pun dilakukan sebab penyakit kencing tikus dapat menyebabkan warga mengalami penyakit komplikasi bahkan menyebabkan kematian.
"Biasanya rumah yang sering terjadi banjir menyebabkan tikus keluar dari sarangnya sehingga mencemari air dan berpotensi di minum atau termakan oleh masyarakat," kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bengkulu, Ruslian, Senin, 21 Juli 2025.
Dia menyebutkan meskipun saat ini belum ada laporan terkait penyakit leptospirasis tersebut, Dinkes pun terus menghimbau masyarakat di Provinsi Bengkulu ini dapat terus berhati-hati karena mengingat sejak beberapa hari terakhir sering terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
BACA JUGA:Razia Operasi Patuh Nala 2025 di Depan Rumah Sakit Tino Galo, 3 Motor Knalpot Brong Ditahan
BACA JUGA:Pengemplang Pajak Dituntut 4 Tahun dan Denda Rp 735 Juta
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk selalu lah menjaga kebersihan lingkungan, kembali menerapkan protokol kesehatan, dan menjaga pola hidup sehat.
Kemudian, tidak juga membiarkan adanya air tergenang di sekitar rumah, menutup penampungan air serta harus membuang makanan yang tidak tertutup dengan rapat dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Jika ada masyarakat mengalami sejumlah gejala penyakit kencing tikus ini seperti, demam tinggi, sakit kepala, nyeri pda otot, muntah bahkan mengalami pendarahan agar dapat mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pengobatan," bebernya.
Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu juga mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan guna menghindari penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang hal itu tidaklah lain disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.
"Hal ini juga dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menjaga kebersihan, sebab jika masyarakat sadar akan pentingnya kebersihan dan mau gotong royong maka tidak akan ada sampah yang menumpuk, tidak akan ada drainase yang mampet dan tidak ada warga yang terkena DBD," beber Kadinkes, Joni Haryadi.
Sebab, sejak Januari hingga Juni 2025 ini sebanyak empat warga di kota dinyatakan meninggal dunia akibat dri kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD).
BACA JUGA:Peringati Hari Anak Nasional, Cahaya Perempuan Gaungkan Pendidikan Seksual-Reproduksi di Sekolah
BACA JUGA:Semarak HAN, Gelar Berbagai Perlombaan