Harian Bengkulu Ekspress

Gerakan Penjarahan Diduga Terorganisir, Ada Aba-Aba Kembang Api Hingga Sosok Pemberi Komando

Rumah anggota DPR RI Ahmad Sahroni di Jarah Massa -tangkaplayar/Bengkuluekspress.id--

Harianbengkuluekspress.id- Aksi penjarahan di sejumlah kediaman tokoh politik tampak terorganisasi dan masif menargetkan Anggota DPR RI dan menteri keuangan Sri Mulyani.

Peristiwa itu menimbulkan pertanyaan besar mengenai motif dan dalang dibalik gerakan tergolong rapi dan terkoordinasi.

Gerakan yang beroperasi yang berlangsung selama dua hari 29-30 Agustus 2025 bergelombang telah melalui persiapan matang dan kepatuhan massa pada koordinator bukan aksi luar.

Massa menunjukkan pola sistemsi, dengan menargetkan nama-nama yang dianggap publik sangat bertanggung jawab dan diduga sebagai pemicu kerusuhan diawali dari rumah anggota DPR RI Ahmad Sahroni, kemudian Eko Patrio, Uya Kuta, Nafa Urbach dan Sri Mulyani.

Aksi penjarahan di rumah Ahmad Sahroni di Tangjung Prio Jumat 29 Agustus 2025, massa merusak dan menjarah, termasuk mobil Lexus dan isi rumah.

Kemudian massa juga menjarah di kediaman Eko Patrio di jalan Karangasem, Kuningan, Jakarta Selatan. Rumah Eko Patrio menjadi target lanjutan pada sabtu malam minggu hingga dini hari.

BACA JUGA:Rumah 3 Anggota DPR RI Dan Rumah Menkeu Sri Mulyani Dijarah Massa, Ini Kronologinya

BACA JUGA:Dorong Ketahanan Pangan Nasional, Mukomuko Genjot Optimalisasi 809 Hektar Lahan Sawah

Rumah mewah tiga lantai itu porak poranda, dengan perabotan, pakaian, dan barang elektronik berserakan. Kaca jendela pecah, sementara massa membawa kursi, koper, speaker, kasur, hingga lampu. Bahkan kucing peliharaan Eko ikut raib.

Selanjutnya, massa menjarah di rumah Uya Kuya di Duren Sawit. Massa merusak pagar rumah dan menjarah benda-benda seperti sapu, rak pakaian, hingga hewan peliharaan.

Penjarahan kemudian bergerak menuju kawasan Bintaro dimana kediaman Pribadi Menteri Keuangan (Menlkeu) Sri Mulyani yang juga Nafa Urbach.

Di rumah Sri Mulyani, terjadi dua gelombang: pertama sekitar pukul 23.00–01.00 WIB, kemudian gelombang kedua sekitar pukul 02.00–03.00 WIB. Hal ini menunjukkan adanya rencana aksi beruntun yang tersusun rapi.

Saksi menyebutkan aksi berlangsung setelah adanya aba-aba melalui sinyal ledakan kembang api, serta suara petasan yang disangka tembakan, menjadi pemicu massa untuk segera bergerak. Ini mengindikasikan komunikasi dan koordinasi yang matang di lapangan.

Warga mengamati ada pemandauan dan survey lokasi sebelum aksi. Ini terlihat pola motor yang mondar-mandir dan kelompok kecil yang mendatangi rumah terlebih dulu untuk “menguji” status target, termasuk mencocokkan nomor pelat kendaraan. Ini menunjukkan survei lokasi sebelum eksekusi penjarahan.

BACA JUGA:Rp 7,8 Miliar Dana Desa Tahap II Masuk ke 20 Desa di Mukomuko, Ini Rinciannya

BACA JUGA:Mitos Atau Fakta Minum Tengah Malam Bikin Gagal Ginjal ? Ini Kata Dokter

Pemberi komando muncul dari mobil tertentu.Seorang saksi menyebut melihat mobil sedan putih di lokasi, yang diduga digunakan sebagai pusat komando. Orang di dalam mobil memberi kode kepada massa lewat gerakan tubuh.

Dalam satu kejadian, massa bahkan mengancam akan membakar kompleks jika “melindungi tikus”—ungkapan untuk target yang tak ditemukan dalam satu lokasi. Aksi intimidasi ini menunjukkan kontrol yang kuat atas massa, bukan kerusuhan tanpa arah.

Dari beberapa lokasi yang dijarah, massa bergerak tanpa penghalang berarti, sehingga mudah masuk kompleks perumahan. Kendati warga telah mencoba untuk menahan massa, namun tidak bisa ditahan. Sementara aparat keamanan mulai datang setelah sebagian besar barang sudah dijarah oleh massa. (**)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan