Harga Kebutuhan Pokok di Mukomuko Naik, Ini Penyebabnya
Sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat di Kabupaten Mukomuko mengalami kenaikan cukup signifikan.-IST/BE -
Harianbengkuluekspress.id – Sejak beberapa hari terakhir, sejumlah komoditas yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat di Kabupaten Mukomuko mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Diantaranya cabai merah dengan harga Rp 65 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram, bawang merah mencapai Rp 50 ribu per kilogram, beras Rp 15 ribu per kilogram, baik itu yang di jual pedagang di pasar tradisional maupun di toko beras.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Mukomuko, Nurdiana SE MAP menyampaikan, naiknya sejumlah kebutuhan pokok itu disebabkan beberapa faktor diantaranya minimnya produksi lokal membuat pasokan sembako bergantung pada kiriman dari luar daerah. Akibatnya ongkos angkut yang semakin besar menjadi faktor penentu tingginya harga di pasar.
“Mukomuko belum mampu memproduksi sendiri. Kalau kita bisa memproduksi, biaya transportasi bisa ditekan. Namun sekarang beban transportasi cukup besar, sehingga berimbas pada harga jual di pasar-pasar di daerah ini,” katanya.
BACA JUGA:Petani Kekurangan Air, Tebat Gelumpai Perlu Dikeruk, Begini Penyataan Bupati Rifai
BACA JUGA: 112 Ton Beras SPHP di BU Disalurkan Lewat Ini
Ia juga menyampaikan, fluktuasi harga sebenarnya merupakan hal yang wajar karena hukum pasar selalu berlaku. Namun kondisi jalan yang macet serta tingginya ongkos kirim membuat harga bahan pokok di Mukomuko cenderung naik lebih cepat.
“Kemungkinan pada minggu depan bisa jadi harga turun lagi, tergantung lancarnya distribusi,” ujarnya.
Untuk menekan lonjakan harga, sambung Nurdiana, Pemerintah Kabupaten Mukomuko bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus berupaya mencari solusi. Diantaranya mendorong kerja sama antar-daerah dalam penyediaan bahan pokok serta membuka peluang subsidi biaya transportasi. Selain itu, pemerintah daerah juga rutin menggelar pasar murah sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat. Dicontohkannya beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dijual Rp 12 ribu per kilogram atau jauh lebih murah dari harga pasar sebesar Rp 15 ribu per kilogram.
“Masyarakat punya pilihan, mau beli beras yang relatif murah atau beras kualitas premium,” ungkapnya.(budi)