Ayo Berantas Sarang Nyamuk, Begini Caranya

foto internet.--

harianbengkuluekspress.id – Jumlah warga di Kabupaten Mukomuko yang positif terjangkit penyakit DBD sudah mencapai angka 242 orang dan sebanyak 2 orang diantaranya meninggal dunia. Untuk menekan terus bertambahnya kasus DBD, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mukomuko melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengambil langkah cepat. Seperti menyurati seluruh camat dan kepala desa.  Tujuannya agar dapat menggerakan masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) DBD.

“Bersurat kepada seluruh Camat dan Kades/lurah  telah kita sampaikan, agar segera menggerakkan masyarakat PSN demam berdarah. Karena jumlah kasus DBD di daerah kita ini sudah sangat mengkhawatirkan,” ujar Sekretaris Dinkes Kabupaten Mukomuko, Jajad Sudrajat SKM dikonfirmasi BE,Rabu 24 April 2024. 

Jajat mengaku, untuk memberantas wabah penyakit DBD tidak bisa hanya dilakukan oleh  Dinkes saja. Namun semua pihak harus terlibat, termasuk masyarakat dan pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Polres Mukomuko dan Kodim 0428/Mukomuko agar dapat menggerakkan seluruh personelnya melaksanakan gotong royong membantu masyarakat melaksanakan PSN.

”Kita juga sudah berkoordinasi dengan Polres dan Kodim. Alhamdulillah  mendapatkan respon baik dan siap bergerak membantu melaksanakan PSN demam berdarah di daerah ini,” katanya. 

BACA JUGA:DBH Sawit Diplot untuk Program BPJS Ketenagakerjaan, Segini Jumlah Anggarannya

BACA JUGA:Jalan Provinsi Sudah Bisa Dilewati Kendaraan, Ini Lokasinya

Jajad juga mengkhawatirkan, jika PSN tidak cepat dilakukan, maka kasus demam berdarah di daerah ini berpotensi terus bertambah. Kabupaten Mukomuko saat ini menduduki peringkat 4 terbanyak kasus DBD di Provinsi Bengkulu. Untuk itu, pihaknya mengencarkan gerakan 3M plus. Dimana gerakan ini dapat memberantas sarang nyamuk serta melakukan foging di tempat-tempat yang sudah terdampak oleh nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD. Meski fogging tidak begitu efektif dalam penanganan nyamuk aedes aegypti ini, karena hanya membunuh nyamuk dewasa saja dan sarang nyamuk masih ada.

“Fogging tetap kita lakukan. Yang lebih efektif  adalah menguras dan menyikat tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat semua tempat penyimpanan air dan bersih-bersih lingkungan di tempat tinggal dan lingkungan sekitar,” ajaknya. Kasus DBD di daerah ini, sambungnya, dikhawatirkan akan terus bertambah. Untuk kasus DBD di bulan Januari tercatat  54 kasus, Februari 100 kasus dan Maret 73 kasus. Sedangkan kasus DBD di bulan April minggu ketiga sebanyak 15 kasus. “Total 242 kasus, sebanyak 2 orang meninggal dunia,” bebernya. 

Ia juga menyebutkan, pola sebaran demam berdarah memang dinamis. Daerah yang sebelumnya terdapat kasus dengan jumlah banyak cenderung terpacu melakukan pencegahan secara masif. Hal itu menjelaskan mengapa daerah yang terpapar banyak DBD tahun lalu, seperti di Kecamatan Pondok Suguh, Lubuk Sanai dan yang lainnya pada tahun ini relatif terkendali. Ia juga menerangkan, peningkatan kasus DBD tidak terjadi begitu saja. Sulitnya mengendalikan peredaran nyamuk Aedes aegypti pada musim hujan. 

"Banyaknya genangan air menjadi tempat berkembang biak yang sempurna bagi inang virus dengue. Kondisi itu tidak diiringi oleh tindakan pencegahan yang masif dan ketat, seperti menggalakkan gerakan 3M Plus," terangnya.(budi)

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan